Regret


Hai kawan, salam kenal. Namaku Hana. Tak banyak yang bisa aku bicarakan di sini. Tapi maukah kamu membaca kisahku? Kisah yang tercipta karena kebodohan seorang pengecut. Maukah? Ku harap kamu tidak menyesal.
***
Guys, aku balik duluan ya. Gak apa-apa kan?” suara Tari berhasil memecah keheningan di antara kami berempat. Semuanya serempak menoleh ke arahnya. Aku melirik ke arah jam, sekarang sudah pukul setengah sembilan malam.
“Kerjaan belum beres, main balik aja lu!” semprot Jeno sedikit terlihat kesal. Aku menghela nafas.
“Gak apa-apa, Tari biar pulang duluan aja. Kamu kayak gak tahu aja mamanya kayak gimana, memang kamu mau kena semprot mamanya?” belaku. Jeno tak menjawab. Wajahnya terlihat kusut. Yah wajar, aku rasa Jeno juga kesal karena masalah yang terjadi hari ini. Proposal pengajuan acara untuk pentas seni sekolahku tiba-tiba saja ditolak mentah-mentah oleh pembina OSIS dengan alasan isi proposal yang tidak realistis. Padahal seminggu yang lalu sang pembina OSIS sudah mengatakan kalau proposal kami diterima, tapi entah apa sebabnya tiba-tiba saja beliau menolaknya siang tadi, sementara konsep acara yang kami buat sudah sangat matang. Alhasil malam ini kami harus memperbaiki proposal kami secepat mungkin sebelum besok pagi seperti yang telah diperintahkan pembina OSIS dan jika tidak terselesaikan acara pentas seni tahun ini terancam gagal. Hal ini tentu saja membuat Jeno selaku penanggung jawab acara merasa sangat kesal sehingga memaksa kami bertiga untuk ikut membantu demi kelangsungan acara ini.
Sorry ya, aku gak bisa banyak bantu kalian...” sesal Tari sambil menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya. Aku mengangguk sambil tersenyum.
“Di, sebaiknya kamu antar Tari pulang. Sudah malam, aku pikir sedikit bahaya kalau dia pulang sendiri” pintaku.
“Tapi kalian gak apa-apa aku tinggal?”
“Gak apa-apa. Lagipula kamu pasti balik lagi ke sini kan?” tanyaku. Rudi mengangguk. Kemudian mereka berdua pergi meninggalkan ruang OSIS. Sekarang yang tersisa di ruangan itu hanyalah aku dan Jeno yang wajahnya masih terlihat kusut. Beberapa menit kemudian Jeno terlihat menghela nafas, lalu berdiri dan keluar dari sana.
“Mau kemana?” tanyaku
“Toilet” jawabnya sedikit ketus tanpa mengalihkan pandangannya padaku. Aku hanya meghela nafas, lalu kembali melanjutkan pekerjaanku yang tertunda dengan ditemani cahaya lampu yang sedikit temaram dan juga cicak yang beberapa kali bersuara memecah kesunyian. Ruangan OSIS tempatku berada sangatlah sunyi, sekarang hanya terdengar jemariku saja yang sibuk menekan keyboard komputer berusaha menyusun setiap kalimat dengan baik. Saking sunyinya, jujur saja sekarang aku mulai merasa takut tinggal di ruangan ini sendiri. Ditambah lagi Jeno yang belum juga kembali ke ruangan OSIS setelah hampir 40 menit pergi ke toilet.
Tak tahan dengan kesunyian ini, aku pun memutuskan untuk pergi keluar dan mencari Jeno. Aku berjalan sedikit cepat menuju toilet yang berada di ujung koridor. Namun belum sempat aku mencapai toilet, tiba-tiba saja mataku terpaku pada salah satu kelas yang aku lewati. Samar-samar aku melihat seseorang sedang duduk sambil meletakkan kepalanya di meja membelakangi arah pandangku. Aku sedikit memicingkan mata dan menyadari bahwa itu adalah Jeno. Aku mendengus kesal karenanya. Sekarang aku tahu kenapa dia lama sekali, rupanya dia tertidur! Aku pun memutuskan untuk masuk ke dalam kelas dan membangunkan Jeno.
“Hey! Bangun!” ucapku sambil mengguncangkan tubuh Jeno tapi dia sama sekali tidak bergeming. Aku pun kembali mengguncang tubuhnya dengan keras, namun tiba-tiba saja dia jatuh terlunglai, dengan sigap aku segera menahan tubuhnya agar tidak jatuh terjengkang. Bersamaan dengan itu, aku merasakan sesuatu yang basah menempel pada tanganku yang sedang menahan tubuh Jeno agar tidak jatuh. Dengan perlahan aku pun memeriksa tanganku. Sekejap saja, mataku terbelalak ketika menyadari apa yang baru saja aku sentuh. Darah. Dengan takut, aku kembali berusaha membangunkan Jeno.
“J-Jeno... B-bangun... K-kamu...”
BRAK!
Tiba-tiba saja pintu kelas tertutup, hal itu sontak membuatku terkejut dan juga takut. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tapi satu hal yang pasti, seseorang pasti sudah membunuh Jeno ketika aku masih berada di ruang OSIS. Beberapa detik setelah itu, lampu kelas tempatku berada tiba-tiba saja mati. Untuk ke sekian kalinya aku merasa terkejut dan takut, bahkan kali ini aku sampai menangis. Tidak tahu apa yang harus aku lakukan, terlebih lagi dengan Jeno. Apa sekarang aku harus meninggalkannya dan meminta bantuan?
Tap... Tap...
Dalam kegelapan aku bisa mendengar jika seseorang sedang berjalan ke arahku sekarang. Aku tidak bisa bergerak dan tubuhku terasa menciut. Sedikit cahaya dari luar membuatku bisa melihat siluet orang yang sedang berjalan ke arahku, walaupun tidak terlalu jelas tapi aku tahu jika dia adalah seorang lelaki. Dia berjalan semakin dekat ke arahku.
“S-siapa?” ucapku tergugu berusaha melawan rasa takutku. Detik berikutnya aku dengar dia menyeringai dan sedikit tertawa. Aku kembali terbelalak menyadari siapa pemilik suara itu.
“R-rudi?”
“Ya benar, ini aku Hana...”
“J-jangan bilang kalau k-kamu yang telah...”
“Tepat. Seperti biasa, kamulah yang paling peka di antara mereka...”
“Mereka? Jangan bilang kamu...”
“Seperti yang kamu pikirkan. Aku juga sudah membunuh Tari. Satu hal lagi yang harus kamu tahu, akulah yang membuat proposal acara pensi gagal. Dengan begini aku bisa membunuh kalian sekaligus” ucapnya terdengar dingin. Mataku kembali terbelalak. Jantungku berdegup sangat kencang, aku benar-benar takut sekarang. Kenapa Rudi melakukan ini? Aku sama sekali tidak mengerti.
“K-kenapa kamu...?” aku mencoba untuk menguatkan diri bertanya alasan Rudi melakukan semua ini. Bukannya menjawab, Rudi tiba-tiba saja tertawa keras. Bukan tawa yang menyenangkan, melainkan tawa yang menyeramkan.
“Kenapa katamu? Bukankah alasanku sudah cukup jelas Hana? Apa kau lupa dengan apa yang telah kalian bertiga lakukan padaku, hah?” tanya Rudi dengan marah. Aku benar-benar takut hingga sama sekali tidak bisa menemukan alasan Rudi melakukan semua ini. Aku terdiam sambil menangis, lututku sekarang semakin lemas.
“Ah... sepertinya kamu memang sudah lupa. Tidak heran, kalian memang iblis. Apalagi kamu Hana. Kamulah yang paling bajingan di antara mereka! Sepertinya percuma saja membuat kamu ingat, aku rasa kamu juga tidak pernah berpikir jika perbuatanmu adalah sebuah dosa. Baiklah, tak apa... sekarang yang harus aku lakukan hanyalah membunuhmu dan menjadikanmu seonggok bangkai tak berguna seperti mereka...” ucapnya sambil berjalan terus ke arahku.
“TIDAAAAAK!” teriakku sambil melempar sebuah kursi ke arahnya hingga Rudi jatuh tersungkur. Sekarang pikiranku kalut, yang aku tahu sekarang aku hanya harus keluar dari sini. Aku berlari dengan cepat melangkahi setiap bangku, namun sial pintu kelasnya terkunci. Aku mulai panik ketika melihat Rudi berusaha bangkit dan kembali berjalan ke arahku. Aku yang semakin kalut kemudian mengambil kursi dan melemparnya ke arah jendela hingga jendela itu pecah dan keluar dari kelas lewat lubang jendela yang sudah aku pecahkan.
Tak mempedulikan tangan dan kakiku yang terluka akibat pecahan kaca, aku terus saja berlari berusaha menyelamatkan diri. Sesekali aku menoleh ke belakang, aku lihat Rudi mengejarku sambil mengacungkan pisau yang dibawanya. Aku semakin takut dan berusaha lari lebih kencang lagi hingga mencapai tangga dan turun ke lantai satu. Namun sebelum aku sampai, di tengah-tengah tangga terlihat Tari yang tergeletak berlumuran darah. Seperti halnya Jeno, aku tahu jika sekarang dia pun hanyalah seonggok bangkai. Sambil menahan air mataku yang tak mau berhenti, aku berusaha melewati mayat Tari yang menghalangi jalan. Tiba-tiba saja aku merasakan kepalaku terbentur salah satu anak tangga. Aku sadar bahwa aku baru saja terjatuh karena darah Tari yang tak sengaja aku injak. Tubuhku berguling di antara anak-anak tangga dan akhirnya berhenti setelah mencapai lantai satu.
Dengan menahan segala rasa sakit, aku berusaha bangkit. Tapi tiba-tiba saja aku merasakan sesuatu menjerat leherku. Ikat pinggang. Rudi sudah menangkapku sekarang. Dengan kasar dia langsung menghempaskan tubuhku ke lantai, aku tak bisa bergerak.
“Kamu tidak bisa kabur lagi, Hana...”
JLEB...
Aku merasa ujung pisau yang dingin itu menghujam dadaku, aku sama sekali tak bisa bergerak dan hanya merasakan rasa sakit yang teramat sangat itu. Yang aku lihat sekarang hanyalah wajah Rudi yang dipenuhi amarah sedang menghujam dadaku.
Tiba-tiba saja kilasan memori berdatangan ke dalam pandanganku seperti sebuah proyektor yang memutar film masa lalu. Ya, itu kenanganku. Aku melihat seorang anak yang sedang dipukuli oleh dua orang anak kecil lainnya, sedangkan aku hanya berdiri memperhatikan ketiga anak itu sambil melipat tanganku di dada. Walaupun anak itu meronta dan meminta tolong padaku, tapi aku hanya diam. Seringai juga terasa di wajahku ketika melihat anak itu dipukuli. Aku baru sadar kedua anak itu Jeno dan Tari sedangkan yang dipukuli adalah Rudi. Akulah yang menyuruh Jeno dan Tari melakukan itu, dulu aku membenci anak bernama Rudi. Ah... ternyata aku memang iblis
“Ma... af...”
Lalu semuanya gelap.
***
Keesokkan harinya, sekolahku langsung menjadi berita utama di semua media massa. Kisah seorang pelajar yang membunuh tiga temannya sekaligus benar-benar menjadi heboh. Rudi kemudian ditangkap setelah sehari menghilang, tapi benar-benar tak ada penyesalan sama sekali dari dalam dirinya. Layaknya seseorang yang baru saja melepas beban terbesar dalam hidupnya, dia benar-benar lega. Kebenciannya terhadapku, Jeno, dan Tari seakan tercabut sampai ke akarnya setelah kami mati. Ah benar-benar... hidup itu singkat kawan. Sesingkat hidupku yang berakhir tragis ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PPDB SMP Darul Fatwa

Senja

HUKUM KEPLER